Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Persalinan Prematur di Wilayah Pedesaan
DOI:
https://doi.org/10.61696/muara.v1i1.896Keywords:
Persalinan Prematur, Faktor Risiko, Wilayah Pedesaan, Anemia, Infeksi Saluran Kemih, Antenatal CareAbstract
Persalinan prematur, didefinisikan sebagai kelahiran sebelum usia kehamilan 37 minggu, merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas neonatal di seluruh dunia. Di wilayah pedesaan, risiko ini seringkali diperparah oleh keterbatasan akses layanan kesehatan dan faktor sosioekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian persalinan prematur pada ibu bersalin di wilayah pedesaan Kabupaten Z. Metode penelitian menggunakan desain case-control dengan membandingkan 75 kasus persalinan prematur dengan 150 kontrol persalinan aterm, yang tercatat dalam rekam medis dan diwawancarai. Faktor-faktor yang dianalisis meliputi karakteristik demografi (usia, pendidikan, paritas), status gizi (anemia, KEK), riwayat obstetri, akses ANC, infeksi (ISK, IMS), dan pekerjaan/stres. Analisis data menggunakan uji Chi-Square dan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa riwayat persalinan prematur sebelumnya (OR=4.5; CI 95%: 2.1-9.8), anemia pada kehamilan (OR=3.2; CI 95%: 1.7-6.0), infeksi saluran kemih (ISK) selama kehamilan (OR=2.8; CI 95%: 1.4-5.5), dan keterlambatan akses ANC (kurang dari 4 kali kunjungan) (OR=2.5; CI 95%: 1.3-4.9) merupakan faktor risiko yang berhubungan signifikan dengan kejadian persalinan prematur. Intervensi kesehatan masyarakat di wilayah pedesaan perlu difokuskan pada perbaikan gizi ibu hamil, deteksi dini dan penanganan infeksi, serta peningkatan cakupan dan kualitas pelayanan ANC.
